[Tips] Mengirimkan Naskah Novel ke Penerbit

By iwok Abqary


Ternyata, masih banyak yang sering kebingungan mengenai cara mengirimkan naskah ke penerbit. Sampai saat ini saya masih sering menerima pertanyaan tentang itu. Agar tidak perlu menjelaskan berulang, ada baiknya saya menuliskannya saja, sehingga kalau ada pertanyaan serupa saya bisa mengarahkannya ke postingan ini.

Apa sih yang harus disiapkan pertama kali sebelum mengirimkan naskah?
Yang harus diperhatikan pertama kali tentu saja naskah tersebut. Apakah naskah yang kita tulis sudah sesuai persyaratkan yang diminta oleh penerbit tersebut? Panjang halamannya sudah mencukupi batas minimal? Aturan penulisannya sudah disesuaikan? Biasanya, setiap penerbit memiliki aturan tersendiri. Satu sama lain bisa memiliki persyaratan dan aturan yang sama, bisa pula berbeda.

Adapun standar umum penulisan naskah fiksi (apalagi fiksi remaja) yang banyak berlaku di penerbit adalah sebagai berikut :

Panjang halaman : 100 - 150 halaman
Ukuran kertas : A4
Jenis huruf (font) : Times New Roman
Ukuran huruf : 12 pt
Spasi : 1,5
Margin : Menyesuaikan dengan default (tidak perlu diganti)

Meskipun demikian, ada pula penerbit yang memberlakukan aturan sedikit berbeda. Misalnya di penerbit gagasmedia. Berdasarkan informasi yang ada di websitenya, panjang halaman minimal yang disyaratkan adalah 75 halaman A4, tetapi dengan spasi 1 (satu). Sebenarnya, kalau dikonversi ke spasi 1,5, jumlah halaman akhirnya tidak akan jauh berbeda. Hanya saja, kalau kita akan mengirimkan naskah ke sana, tentu kita harus mengikuti aturan main mereka, bukan?

Setelah itu, apa yang harus kita perhatikan?
Kerapian naskah! Sudahkah kita membaca dan mengecek ulang naskah yang kita tulis? Masih adakah typo (kesalahan ketik) di sana-sini? Apakah tanda baca yang kita gunakan sudah tepat? Apakah masih ada kata-kata yang ditulis berupa singkatan karena keasyikan menulis dan tidak menyadarinya (seperti kata yg, sdg, kmrn, dll)? Bahasa alay? Ckckck. Ayo editlah segera. Jadilah editor buat naskah kita sendiri agar naskahnya terlihat lebih rapi untuk dibaca.
Saya sering mendengar dan membaca komentar para editor seperti ini ; "kalau penulisnya saja tidak peduli terhadap naskahnya, kenapa kami juga harus peduli?" Itu adalah tanda-tanda tidak bagus untuk review naskah kita. Jangan salahkan mereka kalau mereka menolak menerbitkan naskah kita karena sudah enggan membacanya dari awal.

Naskah sudah rapi, apa lagi yang harus dilengkapi?
Ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan untuk melengkapi naskah.
Jangan lupa untuk membubuhi nomor halaman! Hal yang sepele tapi masih saja ada yang melupakan atau mengabaikannya. Bagaimana editor bisa tahu naskah kita ada berapa lembar kalau tidak ada nomor halamannya? Dihitung satu-satu? Plis deh! Sinopsis - Pertama kali membuka naskah, biasanya yang akan dibaca oleh editor adalah sinopsisnya terlebih dahulu. Apakah ceritanya unik dan tidak biasa? Buatlah sinopsis singkat (maksimal 1 halaman) yang menguraikan alur cerita dari naskah kita. Buat secara menarik agar editor tertarik membaca naskah kita selengkapnya. Oya, sinopsis ini LENGKAP menggambarkan ceritanya dari awal sampai ending ya. Jangan buat sinopsis menggantung seperti di back cover novel-novel yang sudah jadi, seperti; "Bagaimana akhir kisah ini? Temukan sendiri di dalam novelnya." Biodata Penulis - Tuliskan data kita selengkap-lengkapnya. Nama asli, Nama pena (kalau ada), Alamat rumah, E-mail, No. Telp/handphone, Nomor rekening Bank, dan prestasi penulisan kalau ada (bisa berupa pengalaman menang lomba nulis, buku yang sudah diterbitkan, karya yang dimuat di media, dan lain-lain). Data yang lengkap akan memudahkan penerbit untuk menghubungi apabila ada informasi yang berhubungan dengan naskah kita. Profil Penulis - Tidak ada salahnya kita sudah membuat profil penulis berupa deskripsi untuk diletakan di bagian dalam belakang buku. Tulis dalam bentuk deskripsi singkat (contohnya pasti sudah pada tahu, kan? Bisa dibaca di setiap buku kok). Apabila naskah ini lolos diterbitkan, kita tidak perlu repot menuliskannya lagi, bukan? Surat Pernyataan Keaslian Naskah - Kalau anda masih kebingungan seperti apa sih surat pernyataan ini? Tidak perlu bingung. Surat pernyataan ini tidak perlu memiliki form khusus, dan kita bisa membuatnya sendiri. Asal di dalam surat pernyataan tersebut tercantum bahwa naskah tersebut adalah asli karya kita, dan tidak melanggar hak cipta, itu sudah cukup kok. Jangan lupa tempelkan meterai Rp.6.000,- pada kolom tanda tangan. Surat Pengantar - Ibaratnya kita bertamu ke rumah orang, sopan santun tetap dibutuhkan. Apalagi kalau kita baru pertama kali menawarkan naskah ke penerbit yang bersangkutan. Surat pengantar ibarat mengenalkan diri kita sebagai penulis kepada penerbit. Lagipula, kalau kita bisa menulis naskah beratus halaman, masa menulis surat pengantar setengah halaman saja tidak bisa? Daftar Isi - Ini adalah bagian yang tidak boleh terlewatkan. Susun daftar isi mulai dari surat pengantar, sinopsis, biodata penulis, surat pernyataan keaslian naskah, Judul-judul bab, sampai ke profil penulis. Ah, jangan lupa, buatlah sampul naskah agar naskah kita lebih terlihat menarik. Biasanya halaman pertama dari naskah selalu saya buatkan sampul. Saya tuliskan judul naskah saya besar-besar. Di bawah judul saya tampilkan gambar/ilustrasi yang kira-kira sesuai dengan isi cerita. Gambar itu biasanya saya browsing dari internet. Di bawah gambar kemudian saya tuliskan nama, alamat, email, dan nomor telepon. Print out, lalu jilid! Agar lebih kuat, halaman sampul dicetak/copy di atas kertas tebal. Kalau perlu, tambahkan lapisan plastik di luarnya. Tampilan yang menarik tentu akan lebih enak dipandang. Siapa tahu menarik editor juga agar penasaran membaca isinya. Jilid? Kenapa harus dijilid? Bukannya naskah bisa dikirim via email?
Tidak semua penerbit menerima kiriman naskah via email, teman. Masih banyak penerbit yang hanya menerima kiriman naskah hardcopy. Setidaknya, itulah yang selalu saya lakukan ketika bekerjasama dengan penerbit Mizan, Gramedia Pustaka Utama, dan Gagasmedia (yang sudah bekerjasama selama ini). Sampai saat ini --yang saya tahu-- mereka hanya terima kirim naskah hardcopy. Setelah dinyatakan lolos terbit, baru kita diminta mengirimkan softcopy-nya.
Kalau memang penerbit yang kita tuju menerima kiriman via email, tentu saja kita bisa segera mengirimkan naskah tersebut tanpa perlu print terlebih dahulu. Jangan lupa, surat pernyataan keaslian naskah harus di scan terlebih dahulu agar dapat ikut dilampirkan.
Dimana kita bisa mendapatkan alamat para penerbit?
Di back cover setiap buku biasanya selalu tercantum alamat penerbit. Kita juga bisa cari tahu di website penerbit tersebut (kalau memiliki website). Beberapa alamat website penerbit sudah saya tulis di sidebar sebelah kanan blog ini. Kalau tidak ada, cobalah pergunakan search engine seperti google dan yahoo, untuk mencari alamat penerbitnya.

Agar aman naskah kita kirim pakai apa?
Kalau lokasi penerbit dekat dengan rumah kita, tentu lebih baik mengantarkan langsung naskahnya, agar bisa berkenalan langsung dengan kru penerbitan. Siapa tahu malah bisa diskusi dengan para editor di sana (kalau tidak sibuk). Alternatif lain, tentu saja mengirimkannya melalui pos atau kurir. Pergunakan pos tercatat/kilat khusus kalau menggunakan Pos Indonesia. Simpan resi/bukti pengiriman dari Pos/Kurir. Itu bisa jadi catatan juga kapan kita mengirimkan naskah tersebut, atau untuk melacak apakah naskah kita sudah sampai di alamat yang dituju atau belum.

Kalau naskah kita ditolak dan ingin dikembalikan, jangan lupa selipkan perangko secukupnya (lihat tarif di PT. Pos).

Naskah sudah terkirim. Sekarang kita tinggal menunggu sampai ada kabar mengenai status naskah kita; diterbitkan, atau tidak.Semabari menunggu kabar itu datang, marilah kita menulis lagi.

Semoga postingan ini membantu. :) :)
http://iwok.blogspot.com/2011/06/tips-mengirimkan-naskah-fiksi-ke.html

Lomba Cerpen Paling Bergengsi Tahun Ini!!!








LMCR ke 6 tahun 2011 : Lomba Menulis Fiksi Paling Bergengsi

Published: April 17, 2011 (640 views)Posted in: Creative Writing, NewsEmail to : Email This PostTags: LMCR

Tahun Ke 6






Lomba Menulis Fiksi Paling Bergengsi

LMCR

KEMBALI MENGUNDANG ANDA UNTUK BERPRESTASI

Raih Hadiah Total Rp 95 Juta

+

ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD

Syarat-Syarat Lomba

  1. Lomba ini terbuka untuk pelajar SLTP (Kategori A), SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C) dari seluruh Indonesia atau mereka yang sedang studi/bertugas di luar negeri
  2. Lomba dibuka 21 April 2011 dan ditutup 21 September 2011 (stempel pos)
  3. Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek serta aneka rona kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, kekecewaan, harapan, kegagalan, cita-cita, persahabatan, pengalaman unik, petulangan maupun perjuangan hidup)
  4. Judul bebas, tetapi mengacu pada tema Butir 3
  5. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul. Judul boleh menggunakan bahasa asing
  6. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar dan indah (literer). Bahasa daerah, bahasa prokem, bahasa gaul dan bahasa asing boleh digunakan untuk dialog (bukan narasi)
  7. Naskah yang dilombakan harus asli, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan
  8. Ketentuan naskah:
  1. Ditulis di atas kertas ukuran kuarto atau A-4, ditik berjarak spasi 1,5 spasi, huruf 12 font Times New Roman, margin kiri-kanan rata maksimal 3Cm
  2. Panjang naskah 6 (enam) – 10 (sepuluh) halaman, diprint 3 (tiga) rangkap (copy) disertai file dalam CD
  3. Naskah disertai sinopsis, biodata singkat pengarang dan foto dalam pose bebas ukuran postcard. Lampiran lainnya: Fotocopy KTP/SIM atau Kartu Pelajar/Mahasiswa dan Kartu Keluarga (pilih salah satu)
  4. Setiap judul naskah yang dilombakan wajib dilampiri 1 (satu) kemasan LIP ICE jenis atau saja atau segel SELSUN jenis apa saja
  5. Naskah yang dilombakan beserta lampirannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup, cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2011 sesuai dengan kategorinya pada bagian kanan atas amplop
  6. Naskah dan persyaratan (Butir e) dikirim ke alamat:

Panitia LMCR-2011 ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD

Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City

Bogor 16810 – Jawa Barat

  1. Hasil lomba diumumkan 15 Oktober 2011 melalui website: www.rayakultura.net danwww.rohto.co.id
  2. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat
  3. Naskah yang masuk ke Kotak Pos Panitia LMCR-2011 menjadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarangnya
  4. Informasi lebih lanjut silakan e-mail ke: lmcr.kelima@gmail.com

Hasil Lomba dan Hadiah Untuk Para Pemenang

Pajak hadiah para pemenang ditanggung PT ROHTO Laboratories Indonesia

Kategori A (Pelajar SLTP)

  • Pemenang I – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD
  • Pemenang II – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • Pemenang III – Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • 5 (lima) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • 15 (lima belas) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • Sekolah Pemenang I, II dan III berhak mendapat 1 (satu) Unit TV

Kategori B (Pelajar SLTA)

  • Pemenang I – Uang Tunai Rp 5.000.000,- + ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD
  • Pemenang II – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • Pemenang III – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • 5 (lima) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • 15 (lima belas) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • 50 (lima puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • Sekolah Pemenang I, II dan III berhak mendapat 1(satu) Unit TV

Kategori C (Mahasiswa/Guru/Umum)

  • Pemenang I – Uang Tunai Rp 7.000.000,- + ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD
  • Pemenang II – Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • Pemenang III – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • 20 (dua puluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dariPT ROHTO + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
  • 200 (dua ratus) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

Seluruh pemenang mendapat Antologi LMCR-2011 dan Buku TELAGA INSPIRASI MENULIS FIKSI karya Naning Pranoto

Lomba Bikin FanFic KPOP Neeeeeh!





























Catatan dari Monica Petra, penulis 'You're in My Heart'

Disadari atau tidak, semakin maraknya penerbit baru bermunculan semakin ekspansif pula mereka dalam memburu penulis-penulis terbaik. Salah satu cara adalah dengan diadakannya lomba-lomba menulis novel, cerpen dll. Yang perlu diwaspadai --hal ini mengusik saya sejak lama, menjadi tanda tanya selalu setiap kali melihat pengumuman diadakan suatu lomba oleh penerbit -- sudah bonafitkah penerbit tersebut? Atau mereka hanya ingin tipu-tipu? Saya seringkali mencibir melihat -- dengan kriteria saya sendiri -- yang akhirnya bisa menangkap mau-maunya penerbt ini bagaimana. Seringkali, penerbit tidak memberikan imbalan hadiah yang cukup layak, atau yang lebih fatalnya tidak mendapat apa-apa bagi penulis nomor sekian sampai sekian, dengan alasan dijadikan antologi. Terlalu mudah untuk menjadikan ini bisnis penerbitan dengan mendapatkan naskah-naskah terbaik (melalui lomba). Tujuannya memang hanya bisnis atau bisa jadi mengatasnamakan kegiatan sosial. Perlu ditinjau kembali, "royalti akan disumbangkan untuk yayasan sosial." Apa nama yayasannya? berapa jumlahnya? dll seringkali penulis buta akan hal itu. Beberapa kali saya mengikuti antologi untuk disumbangkan, tetapi sekarang saya ingin mengerjakan segala sesuatu dengan tangan saya sendiri. Alangkah lebih fair jika penulis2 antologi tersebut juga mendapatkan laporan royalti yang disumbangkan. Tidak memungkiri bahwa saya tidak hanya ingin naskah saya dibaca tetapi juga mendapatkan apa yang layak dari kerja keras saya. Untuk lomba cerpen misalnya, dengan honor yang segitu, puaskah saya? Layakkah? Yang notabene disebut lomba, tapi honornya saja tidak beda dengan cerpen-cerpan daily yang dimuat tidak dalam event lomba (perbandingan saja. Kita akan semakin jeli, taktik penerbit itu mereka seperti apa).

Jika tidak layak bagi saya, saya tidak akan ikut. Perlu dipikirkan apakah memang penerbit hanya ingin enaknya saja. Apakah penerbit ini hanya ingin mendapatkan naskah gratis? (biasanya antologi, kalau novel ada royalti jadi tidak masalah sekalipun tidak menang tapi penerbit masih mau menerbitkan). Pikirkan baik-baik. Tuntut apa yang bisa menjadi hakmu. Berpikir, berpikir dan berpikir. Jangan pernah berhenti berpikir. Berpikirlah dengan cepat dan jadilah bijak.

Hanya ini sedikit dari pemikiran saya yang semoga bisa membuat rerkan-rekan lebih jeli dalam memillih perlombaan mana yang benar, mana yang menguntungkan, mana yang tipu-tipu, mana yang bisnis, mana yang amal, mana penerbit yang baik, mana penerbit baru, mana penerbit indie, mana penerbit yang mau bangkrut.

Sekali lagi be smart, be different!

salam kebanggaan,

Monica Petra

Lomba Menulis Serba Serbi Ujian Nasional

Ujian Nasional selalu saja menjadi magnet yang banyak mengurai cerita baik bagi insan pendidikan, media, pemerintah maupun masyarakat luas. Melalui event ini kami mengajak kepada rekan-rekan untuk menuliskan kisah apapun mengenai ujian nasional dari sudut pandang anda....



Saya mengajak anda mengirimkan kisah berupa:

* Persiapan menghadapi Ujian Nasional
* Pengalaman menjadi pengawas Ujian Nasional
* Kisah menarik ketika ujian nasional (berkesan, menggelikan,menyedihkan, dll)
* Ricuhnya pelaksanaan Ujian Nasional
* Ujian Nasional si Sulung
* Atau kisah apapun yang berhubungan dengan Ujian Nasional...



Syarat, Ketentuan dan Tema:

Tema: SERBA SERBI UJIAN NASIONAL

1. Naskah harus berbasis KISAH NYATA (dalam bentuk cerita, bahasa menarik, sederhana, berkesan, inspiratif dan mudah dicerna).
2. Naskah Asli karya sendiri (Ejaan utama ejaan EYD, boleh sedikit disusupi bahasa daerah, bahasa gaul yang harus dijelaskan di foot note)
3. Naskah belum pernah dipublikasi di media cetak komersial nasional dan/atau daerah
4. Maksimal mengirim 2 naskah terbaik
5. Naskah bisa dari pengalaman diri sendiri atau orang lain, bila pengalaman orang lain nama tokoh dan nama tempat harus disamarkan/DIGANTI untuk menjaga privasi.
6. Untuk Memudahkan info, komunikasi dan koordinasi, maka silahkan tag fb penyelenggara
http://www.facebook.com/legophysica08

Adapun hal teknisnya

1. Ketik dalam MS Word, 4-5 halaman ukuran A4
2. font: Times New Roman, ukuran 12 spasi: 1,5 margin standar
3. Kirim ke: me_muslimnegarawan@ymail.com dan lombamenuliskisahserbaserbiun@yahoo.com
4. subject: SSUN (Judul Naskah +Nama Pengirim Naskah), misal SSUN (My Unforgottable UAN+ Tri Lego Indah )
5. KIRIM DENGAN FILE ATTACHMENT/LAMPIRKAN FILE, WORD SAVE AS: 97-2003 Document / Word Document/ Rich Text Format

(JANGAN DI BODY EMAIL)

1. Posting materi lomba di Note/catatan FB dengan men-tag Tri Lego Indah (
http://www.facebook.com/legophysica08 ) , Akhi Dirman Al-amin Full (http://www.facebook.com/profile.php?id=100000482151243), Naqiyyah Syam Full (http://www.facebook.com/profile.php?id=100001120919498), Yazmin Aisyah (http://www.facebook.com/profile.php?id=1693548001) serta 20 teman lainnya.
2. SERTAKAN BIODATA SINGKAT TIPE NARASI (di akhir tulisan)
3. Pengiriman naskah lomba mulai 15 January 2011- 20 February 2011.



Satu Pemenang terbaik akan ditentukan oleh dewan juri :

1. Akhi Dirman Al Amin

2. Naqiyyah Syam

Dan satu pemenang favorite akan dipilih oleh penyelenggara lomba (Tri Lego Indah)



Hadiah :

-Satu peserta terbaik akan mendapatkan paket buku : Negeri Lima Menara+ Menjadi Pemenang Kehidupan + Skripsi Krispi

-Peserta Favorite akan mendapatkan paket buku : Menjadi Pemenang Kehidupan + Kunci Pribadi Mantap

-Untuk 20 Naskah terpilih akan diikhtiarkan ditawarkan kepada penerbit dan diusahakan launching April 2011 (saat pelaksanaan Ujian Nasional)



Info Tambahan :

Naskah yang akan dibukukan {20 Naskah Terbaik + Tulisan Dewan Juri (mb Naqy dan Akhi Dirman) + Penyelenggara (Tri Lego Indah) + Panitia (Yazmin Aisyah+Dilla Saktika Negara)}

Pengumuman pemenang 15 Maret 2011

info terupdate klik :

http://kammiunila.multiply.com/journal/item/13/Ikuti..._Lomba_Menulis_Kisah_Seba_Serbi_Ujian_Nasional_Gratis_Info_Update_

Perjalanan Sebuah Naskah

Ditulis oleh Triani Retno, Penulis 25 Curhat Calon Penulis Beken




Ketika menulis sebuah cerita, entah itu cerpen atau novel, kita pun berharap cerpen/novel kita akan dimuat di majalah atau diterbitkan oleh sebuah penerbit.

Salah gak?
Ya nggak dong. Wajar banget.
Ada tapinya?
Ada, dong.

Selain bisa menulis, kita juga harus bisa menunggu. Maksudnya? Maksudnya, naskah yang kita kirim ke majalah, penerbit, atau agen belum tentu akan terbit dalam waktu 2-3 bulan. Banyak sekali naskah yang ditulis dan dikirim setiap harinya. Jauh lebih banyak daripada kapasitas penerbit/majalah untuk menerbitkan atau memuat tulisan itu.

Baru mengirimkan 1-2 bulan lalu berteriak di berbagai forum bahwa penerbit X, majalah Y itu brengsek dan lelet jelas bukan hal yang bijak.
Baru mengirim 1-2 bulan lalu sudah menelepon redaksi/editor nyaris setiap hari juga tidak diharapkan.
Sabar dong, Bro. Sabar atuh, Cin. Redaksi/editor juga butuh waktu untuk bekerja, untuk memilih yang terbaik. Redaksi/editor juga manusia biasa yang butuh istirahat.

Saya pernah beberapa kali ngintip status editor sebuah majalah....wiiiw....ada 4000-an naskah yang belum terbaca sementara naskah-naskah baru terus mengalir. Kalau saya menjadi mbak editor itu, mungkin saya sudah stres berat.
Jadi, saya pun tahu diri dan mengantri tanpa banyak tanya.

Banyak yang menduga, tulisan saya lolos begitu saja tanpa seleksi. Langsung dimuat di majalah X. Langsung terbit di penerbit Y. Selama ini saya selalu posting kalau ada yang naakah saya yang dimuat/terbit/menang lomba, dan sebaliknya. Diam-diam saja kalau ditolak atau kalah. Bukan apa-apa. Saya pernah menulis status FB tentang naskah saya yang ditolak, dan ternyata responnya membuat saya miris. Banyak teman yang malah menjadi gentar, takut, dan tak berani mengirim naskah karena takut ditolak. Padahal maksud saya dengan status itu adalah: Semua penulis punya peluang sama. Sama-sama berpeluang diterima dan sama-sama berpeluang ditolak.

Kalau ditolak, so what? Kenapa, gitu? Putus asa? Mogok? Memaki-maki? Duh, Please deh...

Saya menulis cerpen dan mulai mengirimnya ke majalah sejak kelas 3 SMP. Cerpen pertama dimuat di majalah (Aneka) ketika saya kuliah semester 5. Silakan hitung berapa tahun waktu yang saya butuhkan untuk menembus majalah. Silakan mengira-ngira sendiri berapa banyak penolakan yang saya terima. Laah...pak pos nya aja sampai hafal pada nama dan wajah saya (zaman itu belum zaman internet). Bertemu di jalan pun Pak Pos akan memanggil saya, "Retno...ini ada surat buat kau dari Jakarta... tebal kali suratnya..." (waktu itu saya masih tinggal di Medan.) Tebal? Ah, berarti naskah saya kembali lagi.

Semua itu tidak instan. Tidak dalam sekedipan mata.
Sekarang pun saya tidak kebal penolakan namun saya berusaha menulis sebaik mungkin agar terhindar dari penolakan itu. Masih gagal menghindar? Mungkin bukan jodoh.

Jadi, masih mau menyerah hanya setelah 2-3 kali ditolak?
Jika memang bisa menulis, yuk kita buktikan kalau kita memang bisa.
Kalau baru merasa bisa menulis, kenapa kita tidak belajar dan berusaha untuk bisa?

Tetap semangat ya....

Naskah ditolak? Ya Kirim lagi!!!

dari tempat saya belajar : Sekolah Menulis Gratis

Empat tahun pertama menjadi penulis, saya hanya menulis cerpen dan berjuang mengirimkannya ke majalah-majalah. Alhamdulillah, beberapa dimuat dan tidak sedikit yang ditolak. Mula-mula ditolak, saya jadi berpikir, “cerpen yang bagaimana sih yang bagus? Kok ditolak melulu?” waktu itu, redakturnya memang memberitahukan alasan-alasan cerpen saya ditolak, diantaranya tema klise, alur monoton, ending klise, dan sebagainya.

Setelah duduk di bangku kuliah, saya memberanikan diri untuk mengirimkan kumpulan cerpen ke Penerbit Syamil, yang ketika itu sedang tenar-tenarnya di kalangan anak-anak Forum Lingkar Pena. Kumpulan cerpen saya, dengan sukses ditolak. Padahal, banyak kumcer yang diterbitkan oleh Syamil. Saya tidak menyerah. Saya kirimkan lagi naskah serial remaja. Hmm… ditolak lagi.

Selain Syamil, saya juga melirik DAR! Mizan. Subhanallah… penerbit yang satu itu lebih susah lagi. Tiga kali berturut-turut, naskah saya ditolak. Editornya agak kejam juga nolaknya, hehehehe…. Tapi, itu justru membuat saya semakin tertantang untuk dapat menerbitkan naskah di DAR! Mizan.

Saat Skripsi, saya berhasil menyelesaikan sebuah naskah novel, kala itu berjudul “Bias Kasih Dua Dara.” Naskah itu saya tawarkan kepada Afifah Afra, senior saya di FLP Semarang yang sudah bekerja di Penerbit Era Intermedia, Solo. Meskipun ada hubungan cukup dekat, berhubung dia ketua FLP Semarang yang pertama, dan saya Ketua FLP Semarang yang kedua, naskah saya ditolak dengan sukses. Katanya, tidak cocok untuk penerbit Era.

Alhamdulillah, tidak lama ada pengumuman lomba novel di Penerbit Gema Insani Pers. Saya ikutkan saja novel yang ditolak Afifah Afra itu ke sayembara bergengsi itu. Ternyata… naskah saya jadi pemenang kedua! Selanjutnya diterbitkan dengan judul, “Oke, Kita Bersaing!” Saya benar-benar tidak menyangka. Saya bahkan lupa tanggal pengumuman pemenang. Tiga hari sebelum nama pemenang diumumkan, saya ditelepon oleh Penerbit Gema Insani dan sudah dikabarkan lebih dulu bahwa saya menjadi pemenang kedua sayembara mengarang novel GIP. Pengumumannya bisa dilihat di Koran Republika. Alhamdulillah, saya langsung sujud syukur.

Novel “Oke, Kita Bersaing!” rupanya menjadi novel yang pertama kali diterbitkan di antara ketiga novel pemenang. Novel itu bak novel best seller saja. Di Gramedia, dipajang di rak paling depan. Penerbitnya mengatakan bahwa novelnya laris manis. Kabar terakhir, novel itu terjual lebih dari 10 ribu eksemplar dan sempat dinominasikan untuk meraih penghargaan novel best seller di IBF. Suatu kejadian mengharukan terjadi ketika saya ikut outbond bersama ibu-ibu pengajian dari seluruh Tangerang, tiga tahun setelah novel itu terbit. Usai menuliskan nama saya di daftar peserta outbond, seorang ibu menyapa saya.

“Ini benar kan Leyla Imtichanah yang menulis novel Oke Kita Bersaing?”
Saya tersenyum malu-malu. Wah, kok Ibu itu bisa tahu, ya?
“Anak saya senang sekali dengan novel Ibu. Bukunya disimpan terus. Tidak sangka sekarang saya ketemu penulisnya. Kalau anak saya ikut, dia pasti senang sekali,” ibu itu bercerita dengan gembira.
“Anak Ibu umur berapa?” tanya saya.
“Baru kelas 6 SD.”
GUBRAK! Masalahnya, novel Oke, Kita Bersaing itu adalah novel untuk anak SMA!

Nah, sejak OKB meraih penghargaan, herannya (cieeeh….) novel-novel saya berikutnya jadi gampang diterbitkan. Tidak tahu ada hubungannya atau tidak ya, tapi itulah kenyataannya. Pertama, saya mendapat telepon dari Editor Syamil, bahwa naskah saya, “True Love,” akan diterbitkan. Alhamdulillah… akhirnya, setelah dua kali kirim naskah ke Syamil, yang ketiga lolos juga.

Tidak lama, DAR! Mizan juga menelepon. Katanya, naskah saya, “Biarkan Stef Pergi,” akan diterbitkan. Editornya mengatakan, “nah, ini dia naskah yang sesuai untuk DAR. Tidak seperti naskah kamu yang dulu-dulu.” Biarpun, agak-agak menyindir, hati tetap senang. Namanya juga sedang berproses menjadi penulis, Om….

Sewaktu magang di Annida, saya dimintai naskah oleh Melvy Yendra yang baru saja pindah kerja dari Annida ke Beranda Hikmah. Empat bulan kemudian, terbitlah novel “Misteri Sanggar Cinta” di Penerbit Beranda. Sambil magang di Annida, saya juga menyempatkan menulis novel “Cinta Buat Chira” yang saya kirim ke Penerbit Lingkar Pena. Alhamdulillah, itu juga diterbitkan dengan mudah.

Terbayar sudah semua penantian saya selama menjadi penulis. Di antara semua keberhasilan itu, tetap saja ada yang gagal. Dua kali mengikuti lomba novel, keduanya gagal. Alhamdulillah, meski tak jadi pemenang, salah satu novel saya diterbitkan. Itulah “Endless Love.”

Menjadi penulis itu memang harus bermental baja. Terlebih, penulis biasanya sensitive dan gampang down (berdasarkan pengalaman sendiri dan riset kecil-kecilan terhadap teman-teman penulis). Satu yang perlu ditanamkan, bahwa otak editor yang satu tidak sama dengan otak editor yang lain. Kalau naskah ditolak oleh penerbit A, kirimkan saja ke penerbit B. Tapi, jangan berhenti untuk mengirimkan naskah ke penerbit A. Terus saja kirim. Caranya, pelajari buku-buku terbitan mereka. Naskah macam apa yang mereka inginkan. Insya Allah, suatu hari nanti, jalan untukmu pun akan terbuka.

Sekarang pun, meski saya telah menerbitkan buku sendiri, saya masih mencoba mengirimkan naskah ke penerbit. Ditolak??? MASIIIH….. Nyeri hati, tentu saja ada ketika menerima email penolakan naskah. Tapi, itu justru semakin mengasah hati saya untuk kuat menerima penolakan-penolakan. Berbeda rasanya menjadi penulis yang naskahnya sudah—pasti—diterbitkan, dengan penulis yang naskahnya harus berjuang untuk diterbitkan. Penolakan-penolakan membuat kita terus mencaritahu kelemahan naskah kita, dengan begitu kita akan berusaha untuk memperbaikinya.

So, naskah ditolak? Ya, kirim lagi..

Oleh : Leyla Imtichanah di http://www.facebook.com/notes/leyla-imtichanah/naskah-ditolak-penerbit-ya-kirim-lagi/484491292308

Happy New Years, bloggers!

Semuanya,


Selamat Tahun Baru!!

Maaf, mungkin telat.
Tapi saya tetep mau ngucapin...
semoga tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya.
semoga tahun ini bisa menjadi langkah awal debut menjadi penulis.
semoga tahun ini... menjadi tahun kita :)

Loves Teenlit Novel, Loves Writing, Fantasy Buff

Statistik Blog

About Me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves writing so much. Horror buff but exactly fainthearted. Follow me if you wanna be a writer too!