Perjalanan Sebuah Naskah

Ditulis oleh Triani Retno, Penulis 25 Curhat Calon Penulis Beken




Ketika menulis sebuah cerita, entah itu cerpen atau novel, kita pun berharap cerpen/novel kita akan dimuat di majalah atau diterbitkan oleh sebuah penerbit.

Salah gak?
Ya nggak dong. Wajar banget.
Ada tapinya?
Ada, dong.

Selain bisa menulis, kita juga harus bisa menunggu. Maksudnya? Maksudnya, naskah yang kita kirim ke majalah, penerbit, atau agen belum tentu akan terbit dalam waktu 2-3 bulan. Banyak sekali naskah yang ditulis dan dikirim setiap harinya. Jauh lebih banyak daripada kapasitas penerbit/majalah untuk menerbitkan atau memuat tulisan itu.

Baru mengirimkan 1-2 bulan lalu berteriak di berbagai forum bahwa penerbit X, majalah Y itu brengsek dan lelet jelas bukan hal yang bijak.
Baru mengirim 1-2 bulan lalu sudah menelepon redaksi/editor nyaris setiap hari juga tidak diharapkan.
Sabar dong, Bro. Sabar atuh, Cin. Redaksi/editor juga butuh waktu untuk bekerja, untuk memilih yang terbaik. Redaksi/editor juga manusia biasa yang butuh istirahat.

Saya pernah beberapa kali ngintip status editor sebuah majalah....wiiiw....ada 4000-an naskah yang belum terbaca sementara naskah-naskah baru terus mengalir. Kalau saya menjadi mbak editor itu, mungkin saya sudah stres berat.
Jadi, saya pun tahu diri dan mengantri tanpa banyak tanya.

Banyak yang menduga, tulisan saya lolos begitu saja tanpa seleksi. Langsung dimuat di majalah X. Langsung terbit di penerbit Y. Selama ini saya selalu posting kalau ada yang naakah saya yang dimuat/terbit/menang lomba, dan sebaliknya. Diam-diam saja kalau ditolak atau kalah. Bukan apa-apa. Saya pernah menulis status FB tentang naskah saya yang ditolak, dan ternyata responnya membuat saya miris. Banyak teman yang malah menjadi gentar, takut, dan tak berani mengirim naskah karena takut ditolak. Padahal maksud saya dengan status itu adalah: Semua penulis punya peluang sama. Sama-sama berpeluang diterima dan sama-sama berpeluang ditolak.

Kalau ditolak, so what? Kenapa, gitu? Putus asa? Mogok? Memaki-maki? Duh, Please deh...

Saya menulis cerpen dan mulai mengirimnya ke majalah sejak kelas 3 SMP. Cerpen pertama dimuat di majalah (Aneka) ketika saya kuliah semester 5. Silakan hitung berapa tahun waktu yang saya butuhkan untuk menembus majalah. Silakan mengira-ngira sendiri berapa banyak penolakan yang saya terima. Laah...pak pos nya aja sampai hafal pada nama dan wajah saya (zaman itu belum zaman internet). Bertemu di jalan pun Pak Pos akan memanggil saya, "Retno...ini ada surat buat kau dari Jakarta... tebal kali suratnya..." (waktu itu saya masih tinggal di Medan.) Tebal? Ah, berarti naskah saya kembali lagi.

Semua itu tidak instan. Tidak dalam sekedipan mata.
Sekarang pun saya tidak kebal penolakan namun saya berusaha menulis sebaik mungkin agar terhindar dari penolakan itu. Masih gagal menghindar? Mungkin bukan jodoh.

Jadi, masih mau menyerah hanya setelah 2-3 kali ditolak?
Jika memang bisa menulis, yuk kita buktikan kalau kita memang bisa.
Kalau baru merasa bisa menulis, kenapa kita tidak belajar dan berusaha untuk bisa?

Tetap semangat ya....

0 komentar:

Posting Komentar

Loves Teenlit Novel, Loves Writing, Fantasy Buff

Statistik Blog

About Me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves writing so much. Horror buff but exactly fainthearted. Follow me if you wanna be a writer too!