Apa yang harus kamu tahu sebelum menulis fiksi

didapat dari website gagas media


Ditulis Oleh Newsroom
Friday, 15 January 2010
Sebagian orang mungkin menganggap menulis itu gampang. Tapi jangan salah, untuk menghasilkan tulisan yang bagus nggak semudah membalikan telapak tangan. Intinya, menulis itu gampang-gampang susah. Banyak hal yang perlu kamu perhatikan dan ketahui ketika kamu memutuskan untuk menulis, khususnya menulis fiksi.

Nah, beberapa waktu ke depan, GagasMedia akan membantumu untuk mengetahui beberapa hal yang harus diketahui sebelum memutuskan untuk menulis fiksi. Tahapan pertama akan dibuka dengan pembahasan mengenai plot. Berikut adalah penjabarannya.

PLOT

  • Plot dan karakter adalah elemen yang paling vital dalam naskah dan—bisa dibilang—pertimbangan utama redaksi saat memutuskan naskah mana yang layak diterbitkan. Plot yang baik harus masuk akal, mudah dimengerti, dan—pastinya—harus menarik. Masing-masing kejadian dalam cerita diikat oleh hukum sebab akibat.
  • Pada umumnya, plot fiksi itu terdiri dari rangkaian kejadian yang semakin lama semakin tinggi intensitas konfliknyaklimakspenyelesaian masalah. Biasanya, semakin dekat klimaks dengan ending, malah semakin baik.
  • Selain plot, kamu juga harus memikirkan sub plot dan klimaks-klimaks kecilnya. Sub plot itu bisa berupa konflik kecil yang terjadi selama plot utama.
  • Hindari sub plot yang berujung klise. Misalnya, saat menulis novel romance yang dramatis, hindari plot-plot klise seperti kecelakaan, si tokoh utama mendadak terserang penyakit mematikan (penyakit klise favorit: kanker dan leukimia), dan kematian.
  • Satu-dua kali momen kebetulan masih bisa diterima pembaca. Lebih dari itu, kredibilitas plotmu akan dipertanyakan.
  • Plot maju dan plot mundur (flashback) sebenarnya sama saja. Semuanya dikembalikan ke kreativitas menulis kamu. Yang penting, saat menentukan plot jenis apa yang akan kamu pakai, tetap perhatikan logika cerita.

Setelah kamu memahami tentang Plot, kini saatnya kamu mengetahui tentang Karakter. Karakter merupakan tahapan kedua dari tema 'Apa Yang Harus Kamu Tahu Sebelum Memutuskan Menulis Fiksi'. Berikut adalah penjabarannya.

KARAKTER

  • Fiksi yang bagus memiliki tokoh-tokoh yang karakternya mudah diidentifikasi pembaca. Misalnya, di novel You Belong to Me (Johanna Lindsey), semua pembaca cenderung setuju kalau tokoh Alexandra itu disebut ‘tomboy dan sangat kasar’. Dan, tokoh Vasili ‘alpha male dan playboy kelas berat’. Setiap tindak tanduk tokoh, cara berbicara, style pakaian, hobi, pekerjaan, dan bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah konsisten mengikuti identifikasi itu.
  • Tokoh-tokoh utama sebaiknya diperkenalkan di awal cerita. Semakin sering si tokoh muncul, dan semakin konsisten karakternya, akan membuat pembaca akrab dengannya. Dan, biasakan mendeskripsikan karakter tokoh sebelum setting. Lebih baik lagi kalau kamu menjelaskan setting dari sudut pandang si tokoh—jadinya jauh lebih personal.
  • Protagonis dan antagonis nggak melulu harus hitam/putih. Tokoh utama yang terlalu sempurna itu membosankan. Biarkan pembaca yang memutuskan apa tokoh-tokoh di novelmu layak dicintai atau malah dibenci. Tugasmu sebagai penulis hanyalah membuat tokoh berkarakter kuat dan menjaga konsistensinya.
  • Emosi tokoh sebaiknya ditunjukkan dari sikapnya. Ya, ya, kadang-kadang memang ada saja fiksi bagus yang emosi tokohnya malah dinarasikan pembaca. Tapi biasanya, teknik ini di-back up dengan kemampuan narasi yang kuat dan analisis situasi yang detail. Dan, ya, gaya menulis juga berpengaruh kuat dalam hal ini.


Yang harus kamu ketahui sebelum menulis fiksi yang ketiga adalah Setting. Berikut adalah penjelasan Setting yang bisa kamu pelajari.

  • Setting terdiri dari waktu dan tempat saat cerita berlangsung. Setting harus dideskripsikan secara spesifik untuk membuat cerita seolah-olah nyata terjadi, mengatur mood dan suasana yang diinginkan. Nggak jarang setting malah menjadi sumber konflik cerita, misalnya fiksi yang bercerita tentang bencana alam.
  • Setting dan karakter bisa diadu untuk menghasilkan konflik. Misalnya, karakter Adrianna, si study-oriented, di lingkungan pergaulan yang hedonis banget (Glam Girls). Semakin unik setting-nya, semakin menarik buat pembaca.


Setelah memahami tentang Plot, Karakter, dan Setting, masih ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan sebelum memutuskan untuk menulis fiksi. Berikut adalah penjabarannya.

• Redaksi tiap-tiap penerbit memiliki aturan berbeda-beda mengenai lama memproses naskah. Di GagasMedia, waktu yang dibutuhkan 3-4 bulan, berkaca dari banyaknya naskah masuk setiap harinya.
• Khusus naskah fiksi, redaksi akan langsung menolak naskah yang dikirim via e-mail. Kirimkan dalam bentuk hardcopy dan sudah dijilid rapi (ketentuan: Times News Roman 12, spasi 1, panjang naskah 75-150 halaman).
• Fiksi yang bagus berasal dari penulis yang nggak hanya menguasai tema yang sedang dia tulis, tapi juga karena kemampuannya bercerita.
• Penulis terkenal sekalipun nggak mengharamkan pentingnya revisi. Tapi, kadang-kadang, ada satu titik di mana kamu terlalu banyak merevisi saking nggak pedenya. Saran kita cuma satu: buru-buru tahan keinginanmu itu dan cepat-cepat kirim ke penerbit—sebelum kamu kepikiran merevisi lagi!
• Biarpun kedengarannya basi banget, saran ini terbukti manjur lho! Show, don’t tell. Misalnya, daripada menulis ‘dia marah’ lebih baik ceritakan seperti apa gesturnya saat marah. ‘Dia mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya, sementara rahangnya mengeras menahan emosi. Tatapan matanya menyala-nyala menatap laki-laki yang baru saja menuduhnya mencuri uang. Bla, bla, bla....’
• Mulailah bab satu dengan momen dramatis.
• Pertarungan penulis adalah di LIMA HALAMAN AWAL. Kalau kamu gagal menarik perhatian pembaca di halaman awal, pembaca bisa langsung mengeluh bosan dan batal membaca novelmu.
• Hindari klise.
• Semakin detail cara kamu bercerita, semakin menarik novel yang kamu tulis. Gunakan lima panca indera saat menjelaskan suasana atau setting cerita. Jangan melulu hanya apa yang kamu LIHAT, tapi juga yang kamu DENGAR, RASA, CIUM, dan bagaimana EMOSI tokoh di momen itu.
• Hati-hati... kadang-kadang kepribadianmu tanpa sengaja masuk ke dalam karakter tokoh dan badan cerita. Hindari ini dan konsistenlah dengan karakter tokoh-tokoh novelmu.
• Apa yang kamu baca, itulah yang kamu tulis. Kalau sehari-harinya kamu penyuka novel detektif, nggak perlu maksa deh buat menulis novel romantis.
• Gunakan elemen kejutan dan ironi.
• Menulislah karena ingin bercerita—bukan karena dimotivasi keinginan mendapatkan royalti. Royalti adalah bonus atas kerja kerasmu. Memuaskan pembaca dengan bacaan bagus dan inspiratif adalah tujuan utama penulis.
• Semakin produktif kamu menerbitkan buku, semakin besar kemungkinan naskahmu diterbitkan.
• Penulis kreatif berpikir out of the box. Jangan melulu menceritakan kejadian apa adanya. Ganti cara berpikirmu dan cobalah menceritakan ulang dari sudut pandang berbeda.
• Menghina karya penulis lain nggak lantas membuatmu menjadi penulis yang lebih baik.

*dari berbagai sumber*


0 komentar:

Posting Komentar

Loves Teenlit Novel, Loves Writing, Fantasy Buff

Statistik Blog

About Me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves writing so much. Horror buff but exactly fainthearted. Follow me if you wanna be a writer too!